fbpx

Dampak Negatif Memaksa Anak untuk Meminta Maaf

Tidak semua orang bisa dengan mudah untuk meminta maaf, sebagian orang bahkan berasumsi bahwa kesalahannya akan terlupakan begitu saja, atau tidak menyadari bahwa dirinya telah melakukan kesalahan kepada orang lain, dan hal ini bisa dialami oleh diri sendiri, orang tua kita, anak kita serta orang lain. Meminta maaf tidak boleh dianggap sepele, sebab ada makna besar di balik tindakan meminta maaf.

Minta maaf merupakan sesuatu yang sangat penting untuk dilakukan apabila seseorang melakukan kesalahan. Orang yang berani meminta maaf, maka lazim akan dilabeli sebagai orang yang mempunyai jiwa pemberani. Tentu saja, sikap berani meminta maaf ini merupakan sesuatu yang sangat penting untuk dimiliki oleh orang dewasa. Jika meminta maaf butuh keberanian, memberi maaf butuh kekuatan karena pasti kenangan buruk dan menyakitkan akan muncul kembali. Forgiving is not removing our memories, but removing the poison of our memories. Ketika kita memaaafkan, memang masih ada rasa benci dan marah, tapi itu sudah tidak ‘beracun’ lagi.

Rasa benci dan marah juga keinginan untuk membalas dendam akan hilang secara perlahan dengan berjalannya waktu.Oleh karena itu, penting juga untuk menanamkan sikap berani meminta maaf ini kepada anak sehingga diharapkan pada saat mereka dewasa nanti, kebiasaan untuk berani meminta maaf sudah menyatu dalam dirinya.

Meminta maaf merupakan salah satu kata yang biasa disebut magic word atau kata ajaib yang harus dipelajari oleh anak-anak sejak kecil seperti ‘tolong’ ,’terimakasih’, dan ‘maaf’. Walaupun demikian, kita sebagai orang tua harus berhati-hati dalam mengajarkan kebiasaan meminta maaf ini. Jangan sampai karena kita memaksa anak untuk meminta maaf, justru akan memunculkan dampak negatif.

Beberapa hal berikut merupakan dampak negatif yang bisa terjadi apabila kita memaksa anak untuk meminta maaf :

Pertama, Anak akan Merasa bahwa Minta Maaf Hanyalah Sebuah Formalitas Belaka.

Apabila anak sering melakukan sesuatu yang kita anggap salah, kemudian ia kita paksa untuk meminta maaf, maka bisa jadi anak akan beranggapan bahwa minta maaf adalah jalan keluar dari masalahnya. Tetapi sayangnya, memaksa anak untuk meminta maaf akan membuatnya tidak tulus saat meminta maaf. Daripada nanti ia dimarahi oleh orang tuanya atau dijauhkan oleh teman-temannya, maka lebih baik minta maaf dan anak tidak menyadari akan kesalahannya. Padahal maksud untuk mengajarkan anak untuk meminta maaf adalah agar ia menyadari kesalahannya sekaligus menyesal dan tidak mengulanginya lagi.

Kedua, Membuat Anak Memilih Berbohong.

Seringkali anak tidak merasa bersalah atas apa yang dilakukannya. Tetapi orang tua memaksa anaknya untuk tetap meminta maaf atas suatu perbuatan yang telah dilakukan oleh anak, walaupun anak sama sekali tidak tahu di mana letak kesalahannya. Karena takut akan dimarahi oleh orang tuanya, maka anak pun akhirnya memilih meminta maaf. Padahal dalam hati sanubarinya, ia sama sekali tidak merasa bersalah. Akhirnya anak memilih berbohong dengan berpura-pura mengucapkan minta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatan tersebut. Padahal sebenarnya mereka tidak paham tentang apa yang mereka ucapkan dan janjikan tersebut. Maka dari itu ajari anak untuk bersikap jujur yaitu sikap yang mencerminkan adanya kesesuaian hati, perkataan, perbuatan, dan sikap apa adanya yang tidak ditutupi atau tidak berbohong. Sikap anak masih polos akan sangat mudah dilatih untuk bersikap jujur apabila setiap melakukan kesalahan anak dimarahi orangtuanya atau dihukum.Berilah reward atau penghargaan dan dukungan sekecil dan seberat apapun kesalahan yang telah dilakukan oleh anak.

Ketiga, Membuat Anak Merasa Ketakutan.

Anak adalah makhluk yang masih kecil dan lemah. Sementara orang tua adalah pihak yang kuat yang mempunyai kekuasaan atas anak. Oleh karena itu, anak akhirnya memilih minta maaf hanya agar mereka tidak mendapatkan perlakuan buruk dari orang yang jauh lebih kuat darinya. Hal ini akan sangat berbahaya ketika anak semakin besar dan tumbuh sikap beraninya. Lama-kelamaan anak akan berani menentang karena sudah tidak merasa takut. Untuk mengakui kesalahan dibutuhkan keberanian. Bila anak belum berani meminta maaf, maka orang tua dapat menemani anak untuk meminta maaf agar timbul rasa percaya diri pada anak. Berilah dukungan dan rasa aman kepada anak. Bila mereka sudah merasa aman biasanya anak pun akan jujur dan berani mengakui kesalahan dan akhirnya berani untuk meminta maaf.

Keempat, Anak Merasa Dipermalukan.

Boleh jadi orang tua melihat anaknya melakukan sesuatu yang tidak pantas dilakukan di tempat umum atau di depan banyak teman-temannya. Orang tua pun meminta anaknya untuk segera minta maaf kepada teman-temannya. Memang, menyuruh anak untuk minta maaf adalah suatu perbuatan yang benar agar teman-temannya tidak merasa dirugikan. Tapi satu hal yang penting untuk kita perhatikan, bangunlah kesadaran mengenai apa yang salah terhadap apa yang anak lakukan. Jangan sampai anak justru merasa dipermalukan di depan teman-temannya yang itu justru membuat anak merasa sakit hati bahkan kesal kepada orang tuanya. Apa yang dilakukan orang tuanya akan menjadi contoh untuk anak. Oleh karena itu saat orang tua melakukan kesalahan dan diketahui anak, tidak perlu malu untuk memintaa maaf dan mengakui kesalahan. Melatih anak untuk mau mengakui kesalahan dan meminta maaf akan memberikan efek yang sangat baik untuk pertumbuhan dan perkembangan serta kepribadian anak, dan anak pun dapat bersosialisasi dengan baik di lingkungannya dan dapat menjadikan manusia yang berkarakter dan berakhlak mulia.

Kelima, Resiko Menyebabkan Tantrum.

Misalnya kita melihat anak berebut mainan dengan temannya, kemudian tanpa melakukan pemeriksaan tentang siapa yang salah, kita langsung memarahi anak dan memaksanya untuk meminta maaf. Hal ini akan membuat anak merasa marah kecewa dan kesal. Ledakan emosi yang yang kuat ini bisa membuat anak mengalami tantrum yang nanti justru akan merepotkan kita sendiri.

Para orang tua yang berbahagia. Mengajarkan empati terhadap anak merupakan sesuatu yang sangat penting. Namun perlu diingat, membangun kesadaran mengenai apa yang salah dan benar itu juga sangat penting untuk kepribadian karakter anak. Minta maaf karena kesadaran jauh lebih penting daripada minta maaf hanya karena terpaksa tanpa memahami letak kesalahannya.

Selain itu, kita sebagai orang tua juga sangat mungkin mempunyai kesalahan. Oleh karena itu, sudah sepantasnya orang tua juga memberikan contoh untuk mau minta maaf apabila melakukan suatu kesalahan terhadap anak, karena anak adalah peniru ulung. Apa yang dilakukan orang tuanya akan menjadi contoh untuk anak. Oleh karena itu saat orang tua melakukan kesalahan dan diketahui anak, maka tidak perlu malu untuk meminta maaf dan mengakui kesalahan. (www.smartladori.com)

Dibaca

 25 total views,  1 views today

Bagikan tulisan ini ke media sosial :

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Share on digg

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top
×

Assalamualaikum wr.wb.

Silakan klik nama petugas Online Support untuk chat via WhatsApp.

× Chat WA